Jangan Panggil aku Gila! (Don’t Call Me Crazy!)


Kategori            :  Dokumenter

Tahun                 :  2008

Durasi                : 19 min.

Sutradara         :  Kiki Febriyanti

Menonton Film pendek yang diadakan oleh BOEMBOE Forum diIstituto Italiano di Cultura membawa kesan tersendiri ini seperti mengingatkan bahwa selain fisik bisa sakit, jiwapun bisa sakit , tapi disaat ini yang lebih banyak hanya perawatan untuk penyakit fisik.

Rasanya film ini cukup mengena dan meminta kita lebih memperhatikan lagi orang-orang yang kurang beruntung nasib nya dalam mengatasi problema hidupnya disekitar kita.

Foto dibawah ini diambil saat sesi tanya jawab mengenai film yang sudah diputar.

Sesi tanya jawab

Film ini ada dibawah naungan Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia .

dir_documentary_JanganBilangAkuGila

Film yang mengangkat kisah tentang Suharto dan Rufiana mantan penderita gangguan jiwa, mereka sembuh setelah menjalani terapi di pesantren Al-Ghafur, Bondowoso.

Rufiana  atau ana kini telah menikah dan dikaruniai seorang anak, wanita yang berparas ayu, berhidung mancung kulit sawo matang ini terlihat luwes dan biasa saat merawat anaknya.Ana menikah dengan salah seorang guru di pondok pesantren  Al_Ghafur.Ana masuk ponpes itu ketika masih duduk dibangku smp, menurut kyai Gofur saat itu lumayan parah, tetapi ana bisa sembuh dan pulang *tidak disebutkan berapa lama*.ketika duduk dibangku sma ana mulai dikirim lagi ke ponpes karena sakit yang sama.Meskipun kondisi Ana sudah membaik dia tetap tinggal dikawasan pondok itu.

Suharto seorang pria bertubuh kurus, tinggi, rambut pendek dan berkulit sawo matang salah seorang exs penderita sakit jiwa mengaku bahwa dia itu tidak gila, dia tinggal disana dari tahun 1996 keluarganya tinggal disuatu tempat di Jakarta *alamat jelasnya tidak diketahui pihak pondok pesantren* .

Keinginan Impian Suharto hanya ingin pulang kejakarta, ataupun jikalau memang tidak saat dia hidup dimungkinkan jenazahnya dikubur dijakarta …*tapi jikalau tidak mungkin dia bersedia dikuburnya diwilayah ponpes yang memang sudah banyak juga yang dikubur disana*.Keinginannya untuk kejakarta  terlihat jelas ketika Harto yang mengendarai sepeda ontel tua itu berhenti didekat sebuah minibus disuatu pangkalan, dia bertanya mengenai rute perjalanan bis apakah menuju Jakarta atau tidak, jika tidak dia hanya duduk disana selama beberapa menit dan turun lagi dari bus langsung menaiki sepeda tuanya kembali ke ponpes.Hal-hal yang ingin dilakukan pak Harto adalah dia ingin belajar menyupir sebuah kendaraan jika ada yang percayakan kendaraan itu padanya, atau menjadi seorang penjaga keamanan.

Baik Ana maupun Suharto berharap penerimaan kondisi mereka baik dari keluarga, maupun lingkungan tempat mereka tinggal.

Impian dan pikiran sederhana  dari jiwa yang pernah sakit, tetapi ingin tetap berjuang..akankah harapannya bisa tercapai?waktu yang bisa menjawab nya

Sebagian informasi dan gambar diambil disini

Iklan

4 tanggapan untuk “Jangan Panggil aku Gila! (Don’t Call Me Crazy!)

    1. wah kalau masalah itu saya kurang tau, karena sebenarnya pembuat film cuma ingin orang-orang lebih perduli pada nasib-nasib orang yang terganggu jiwanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s